1. Gol Tangan Tuhan Maradona
Diego Maradona adalah pem
ain
terbaik Argentina sepanjang masa. Dalam balutan ban kapten, Maradona
memberikan gelar juara untuk tim tango pada 1986. Empat tahun kemudian,
Maradona sendirian membawa Argentina ke final sebelum dikandaskan
Jerman. Namun, tidak ada yang lebih menghebohkan selain kala ia mencetak
gol melalui tangan. Peristiwa ini terjadi pada 1986. Kala itu,
Argentina berhadapan dengan Inggris. Kala itu, memanfaatkan kesalahan
bek Inggris yang mengirimkan bola lambung ke daerah kotak penaltinya
sendiri, Maradona beradu lompat dengan kiper Peter Shilton. Maradona
lebih unggul karena ia menggunakan tangan untuk “menanduk” bola masuk ke
gawang Inggris. Uniknya, gol tersebut disahkan wasit. Hebatnya, dalam
pertandingan yang sama, Maradona juga mencetak gol yang tak kalah
spektakuler, ia melewati 5 orang pemain Inggris sebelum akhirnya
menceploskan bola ke gawang The Three Lions.2. Tandukan Zinedine Zidane
Siapa
pun tak akan menyangka apa yang dilakukan Zinedine “Zizou” Zidane pada
final Piala Dunia 2006. Kala itu, Zidane pada babak pertama mencetak gol
melalui titik putih untuk membawa Prancis sementara unggul 1-0 atas
Italia. Zidane tercatat sebagai salah satu dari sedikit pemain yang bisa
mencetak gol di dua final Piala Dunia. Namun, tak lama berselang, Marco
Materazzi menyamakan kedudukan.Uniknya, dua orang ini terlibat perseteruan pada babak perpanjangan waktu. Zidane tiba-tiba saja menanduk Materazzi. Tak ayal, berkat aksi diving ala pemain Italia plus aksinya yang tak patut, Zizou diganjar kartu merah. Masuklah pemain yang sebenarnya terkenal santun ini ke ruang ganti.
Kala itu, semua orang mempertanyakan kekonyolan Zidane. Seandainya Zizou tidak dikartu merah, ia pasti menjadi algojo tendangan penalti dan mungkin saja Italia gagal dalam adu penalti tersebut.
Usut punya usut, ternyata Materazzi mengolok-olok bahwa ibu dan saudara perempuan Zidane adalah (maaf) seorang pelacur. Bagi Zidane, tindakannya bukanlah hal bodoh. Ia tengah membela keluarganya. Materazzi yang mengolok-olok, baru beberapa waktu lalu menyatakan kebenaran bahwa ia memang bertindak kurang ajar.
3. Gol Lampard Yang Dianulir
Tuhan
tahu, tapi menunggu. Demikian kata Leo Tolstoy. Itulah yang terjadi
dalam Piala Dunia 2010. Kala itu Inggris kembali berhadapan dengan
seteru abadi mereka, Jerman. Tim Panser sempat unggul 2-0 sebelum
Matthew Upson menipiskan jarak. Ketika kedudukan demikian, Frank Lampard
melepaskan tendangan yang membentur tiang gawang, jatuh ke belakang
garis, sebelum mental lagi keluar. Dari tayangan ulang, bola itu masuk.
Namun, wasit tidak mengesahkan gol tadi. Inggris frustrasi dan akhirnya
dibantai Jerman 4-1.Nyatanya, kejadian ini adalah pembalasan tragedi serupa pada 1966. Kala itu, Inggris yang diuntungkan. Sontekan Geofft Hurst aslinya belum masuk gawang Jerman. Namun, wasit menganggapnya sebagai gol sehingga Inggris menang 4-2 dan menjadi kampiun Piala Dunia. Jika pada 1966 Inggris membuat Jerman gigit jari, pada 2010 kemarin giliran Jerman yang berbuat sebaliknya.
4. Tiga Kartu Merah untuk Josip Simunic
Faktor
lupa tidak bisa dihilangkan dari manusia. Demikian juga pada wasit
Graham Poll yang memimpin pertandingan Kroasia dan Australia di
penyisihan grup Piala Dunia 2006. Kala itu, Poll membuat keputusan unik.
Pemain Kroasia, Josep Simunic, dihadiahinya tiga kartu kuning sebelum
diganjar kartu merah dan keluar lapangan. Beruntunglah bagi Poll,
Simunic menerima kartu kuning kedua dan ketiganya pada masa injury time;
bukan sepanjang pertandingan.Sementara itu, barangkali ketika Pool menghadiahi Simunic kartu kuning kedua dan tidak mencabut kartu merah, Simunic akan berpikir, tengah ada peraturan baru di Piala Dunia.
5. Aksi Si Kuncung Ronaldo
Kita terbiasa melihat Ronaldo dengan
kepala plontosnya. Namun, pada final Piala Dunia 2002 menghadapi
Jerman, Ronaldo menyulap rambutnya menjadi kuncung. Ajaib, berkat model
rambut terbarunya itu, Ronnie berhasil memborong dua gol Brazil ke
gawang Oliver Kahn sehingga tim Samba memenangi Piala Dunia untuk kelima
kalinya.Dengan dua golnya itu, Ronaldo juga berhasil menepis anggapan bahwa ia hanya bisa mengantar klub atau tim yang dibelanya meraih posisi runner-up. Pada Piala Dunia 2006, tanpa rambut kuncungnya, Ronaldo dan Brazil mesti merasakan kekalahan dari Prancis di babak perempatfinal

0 komentar:
Posting Komentar